Kutulisi Kamu, Ceritamu

Di setiap malam,
Adalah rana antara masa depan dan hari-hari silam.
Di pekat kegelapan kerap kudengar pekik tangisan,
Jatuh ke dalam,
Jauh, semakin dalam,
Lalu hilang berbekas air mata yang dihapus paksa senyuman.

Sering kudengar ceritanya sambil menghitung detik-detik yang pelan berdetak.
Tak jarang ia sembunyikan tangisnya dengan gelak.
Aku tahu betul, ia menguatkan diri dalam sesak,
Atas huru hara yang memekak,
Dan ia kuat, meski harus sering mengelak.

Rupa-rupa yang sama,
Setiap perjuangan akan ada darah tumpah yang kita kenal dengan nama luka,
Atau bahkan pertarungan dari masa ke masa harus berkalang nyawa,
Untuk menemukan sebentuk bahagia atau justru memperpanjang duka.

Apa daya hendak ia raih,
Peluh dan tangis tanpa pamrih,
Demi orang-orang terkasih.

Ia menipu diri dengan berjalan jauh tanpa arah, namun harus segera pulang.
Kemudian bermalam di sebuah keheningan yang jeritnya tidak akan didengar orang.

Aku tahu, yang ia rindu hanya sebuah rumah yang tak ramah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s