Cerita Kosong yang Sengaja Dikosongkan untuk Mengisi Kekosongan

Seperti apa bahagia?
Adakah seperti mentari yang absah datang di tiap pagi?
Atau umpama pelangi yang hanya terlihat dari satu sisi?

Pagi ini, tanganku gemetaran.
Mataku yang tak membawa kantuk, berkunang.
Jeli membaca ulang baris demi baris paragraf yang cukup lama sengaja kukosongkan.
Entah untuk apa.

Aku menghabiskan waktu membaca kekosongan, Sayang.
Menunggu terisi dengan berbagai bentuk jawaban.
Aku tidak akan bertanya, selagi sudi masih kau simpan di dada.
Selagi mimpi menjadi cita, sungguh usaha tiada ‘kan sia-sia.
Tidakkah kau ikut bergemetar menahannya?

Sayang, sejak sajak tentangmu mulai kubuat.
Aku hanya berteman dengan kalimat.
Hari-hari diisi dengan mereka-mereka yang bernubuat.
Berharap aku keluar dari mimpi yang kata mereka sesat.
Tapi Sayang, karenamu-lah aku kuat.
Berharap,
Tak henti meratap.
Sampai di suatu saat langit menatapku dengan merahnya, marah.
Loteng-loteng berjatuhan menimpa kepalaku yang isinya telah penuh beraroma kamu.
Bahkan hujan, enggan memandikan jasadku yang tertawa menahan pilu.

Sajakku tidak pernah kuselesaikan.
Maafkan aku, yang tidak mampu membuatmu kehilangan.

10 tanggapan untuk “Cerita Kosong yang Sengaja Dikosongkan untuk Mengisi Kekosongan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s