Senja dan Kemeja Tua (Part …)

“Berpuluh tahun telah, Senja.
Ini pertemuan pertama kita kembali bertatap muka, sengaja atau tanpa Tuhan mengizinkan kita lagi ‘tuk bertegur sapa.
Semoga kamu selalu dan senantiasa baik, lebih baik, terus dibersamai kebaikan, selalu kudoakan.
Aku terlalu banyak bicara ya?
Maaf Senja, aku hanya ingin minta maaf.”

Senja membuang muka, tidak ingin matanya yang basah jadi pemandangan yang semakin merusak ketidak-bahagiaan laki-laki berkemeja lusuh itu.

Ia sadar bahwa sepeninggalnya dari kota ini, kata ‘bahagia’ sudah pudar dan tidak lagi dapat terbaca di raut muka lelaki itu. Senja yang tak habis pikir dengan kegilaannya, pedih mengeluarkan kalimat yang teramat ingin keluar, tapi tertahan.

“Senja, terima kasih atas waktu yang berharga ini. Aku sangat bersyukur kamu telah kembali, walau untuk segera pergi. Tidak apa kalau kamu tidak mau kita bertukar cerita. Aku juga harus pergi, semoga lain waktu Tuhan mengizinkan kita bertemu lagi. Oh ya, aku punya sesuatu untukmu.”

Lelaki itu memberikan sebuah amplop putih polos bertuliskan ‘Dear Senja’, tulisan tangan khas darinya, Senja hapal sekali.

Lelaki itu beranjak pergi, memunggungi matahari yang pelan menyelam seolah juga menyembunyikan kepedihan yang setiap hari ia saksikan, lelaki gila yang kehilangan Senja di setiap senja. Senja tahu, dan memang harusnya dia pun tidak ikut masuk ke dalam kegilaan ini dengan datang menemui lelaki itu. Tapi apalah daya, sekian waktu dia diam-diam pulang hanya untuk menyaksikan lelaki itu dari balik pepohonan, atau dari warung-warung pinggir jalan saat berpura membeli jajanan. Dia adalah bagian penting dari kegilaan ini.

Senja hanya terpaku menerima amplop dari lelaki itu, ia tidak menukar pandangan sama sekali ke arah lelaki itu pergi, ia masih Senja yang kuat di kota ini, walau senja di sudut kota lain tahu bahwa Senja di tempatnya adalah Senja yang berduka.

Dibukanya amplop itu, dibaca;

Dear Nona, Senja.

Waktuku telah tiba, waktu yang sekian lama aku tunggu. Pertemuan denganmu lagi teramat kunanti, dan telah kusiapkan dengan matang untuk apapun yang akan terjadi setelahnya.
Nona, Tuhan begitu baik mempertemukan aku denganmu. Tuhan mengajarkan banyak hal melaluimu.
Meski pembelajaran itu berupa duka dan luka, berupa rindu yang tiada habisnya, kulewati bersama senja dan kemeja, ditambah dengan “orang gila” kata mereka.
Nona, tidak ada yang lebih tahu daripada Tuhan.
Hidup yang kembang kempis, menghirup-hembus suka duka adalah perjalanan paling berharga.
Surat ini kusiapkan sebagai tanda perpisahan, kumulai aku yang baru dengan tidak melupakan bahwa kamu adalah bagian penting dari yang berharga telah menguatkanku.
Maka Nona, Ke sebaik-baik tempat kupulangkan rindu yang teramat, agar rasa-rasa yang kuanggap keramat ini mustahil lagi kulihat.
Dengar Nona, bisikku adalah bisingmu, karenanya kupilih bisu.
Lihat nona, tatapku memunggungimu,
Walau di sisi lain tiada yang lebih indah darimu.
Kubutakan mata kepala dan semua mata yang ada padaku
Agar hanya kusimpan kamu sebagai yang terindah selalu.
Aku pergi Senja. Untuk memulai hari baru, dan menggantung kemeja kita.
Kita tetaplah sahabat, benar kan?
Berbahagialah selalu, Nona. Tiada akan kulupa kamu dalam doa-doaku.

Batin Senja bergolak hebat, air mata Senja terpecak, tubuhnya lunglai, jatuh di pasir yang basah oleh hangat air mata dan hangat air laut senja.

Sebelumnya di Senja dan Kemeja Tua

2 tanggapan untuk “Senja dan Kemeja Tua (Part …)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s