– Larut –

Aku ingin menjadi gula, juga garam Ingin tenggelam dan memberi rasa, berpadu bersama air Tapi Aku bukan gula, yang membuatnya manis Bukan pula garam, yang mengasini Aku.... Hambar Terlalu dini, bagiku menyambut pagi Sayang, terlambat juga untuk menunggu gelap Aku dimana? Aku, seorang pendosa yang tengah diadili Pernah tertawa, satu kali Saat Aku tau kau … Lanjutkan membaca – Larut –

Untuk Tidak Akan

Ini sudah malam kedua setelah petikan jemari kami bertukar cerita di ruang maya Tentang aku, perihal dia, belum semua Serasa kehilangan akal, aku mendapatinya sebagai sosok yang sering aku khayal. Bukan... Bukan sebagai khayalan romantis nan manis Semisal perpaduan jemari yang saling menggenggam membentuk lingkar hati Atau duduk berdua, lalu aku yang sama sekali tidak … Lanjutkan membaca Untuk Tidak Akan

Se-Rasa

Menjelang malam, selepas azan maghrib berkumandang. Langit yang sebelumnya dipenuhi awan mendung telah memenuhi takdirnya. Hujan turun. Mengiringi langkahku untuk segera pulang. Untuk menjawab tanyaku yang telah aku garis bawahi sedari tadi. Bagaimana aku dapat melihat rupa rembulan Jika ia tertutup awan? Bagaimana aku melihat rautmu Jika aku hanya menerka dari balik jemari lentik itu … Lanjutkan membaca Se-Rasa

Entah Baiknya Diberi Judul Apa

Ini bukan sebuah surat terbuka. Ini hanyalah tulisan langka dari pinggiran kota Baringin (;Beringin) pepatah Minang mengatakan Badaun labek tampek bataduah, batangnyo tampek basanda, akanyo tampek baselo (;Berdaun lebat untuk tempat berteduh, pohonnya adalah tempat sandaran, akarnya tempat beristirahat/bersila). Adalah nama salah satu Kelurahan dari 104 Kelurahan pada 6 Kecamatan di Kotamadya Padang, ibukota provinsi … Lanjutkan membaca Entah Baiknya Diberi Judul Apa

Masih Mencari Cara Mengartikanmu

Bukan hal yang mudah jika diharuskan agar aku menemukan bahagia sebagai sesuatu yang sama dimataku dan dimata mereka. Memandang kelangit yang sama, tidak selalu akan melihat bintang yang sama Bagiku, deretan huruf B-A-H-A-G-I-A berarti sebagai sebuah kenyamanan hidup. Kenyamanan tentulah bisa didapatkan dimana saja, kapan saja, dan dari siapa saja. Lalu apa itu kenyamanan??? Ketika … Lanjutkan membaca Masih Mencari Cara Mengartikanmu

Balada

Ini balada do'a Do'a rinduku kepadanya Dimanapun dia Tuhan, aku mohonkan kebahagiaannya Tuhan, aku mohonkan agar lupa dia akan lukanya Tuhan, aku mohon lupakan aku tentangnya Saat aku bisa Aku tak mencoba Selama aku mencoba Justru aku tak lagi bisa Tuhan, ini balada Balada hatiku yang rindu padanya Bukan rindu yang sesat Sebab rindu ini, … Lanjutkan membaca Balada

Saat itu, Kebahagiaanmu

Matamu syahdu, Matamu haru, Airmatamu meriak, Bahagia berteriak, Untuk kemenangan yang ternyata memang hanya menunggu waktu. Kebodohan, perihal menunggu yang seringkali kita perdebatkan tentu sudah akan tiada. Kita lihat saja, apakah aku juga harus menunggu untuk kata hai dan sedikit canda basa-basi darimu nantinya akan selama kau menunggu juga? Sebaiknya aku mengucapkan selamat dulu lah … Lanjutkan membaca Saat itu, Kebahagiaanmu

Ini Sabtu Terakhirmu, Juli

Hujan mengantar siang kepada kelam Senja berpulang ke pedalaman. Dingin, sepi telah teruntuk Kepada rindu yang enggan membusuk. Andai saja Rindu berbicara, dia pasti mencerca dengan ribuan caci Seperti umpatan yang sedari pagi kemarin dan pagi-pagi sebelumnya. Aku dan Rindu dalam satu keterikatan Waktu membolakbalikkan, sementara dunia menyalahkan Menguras kecutnya keringat takdir, dunia menjauhi Aku … Lanjutkan membaca Ini Sabtu Terakhirmu, Juli

Memora-rasa

Rindu dan waktu seperti ombak dan angin Sayang, waktu hanya mengikis sedikit saat rindu dibawa menjauh lalu kemudian waktu membawa gulungan rindu yang lebih tinggi dan lebih besar. Aku berlari, namun aku terlambat. Aku ditenggelamkan olehnya. Oleh bayangan wajahmu yang tersipu malu, Saat kecupanku di punggung tanganmu. Duabelas tahun setelah itu, Aku rindu.